11 July 2008

"Diorama Sepasang Albanna" di balik layar

Tahun 2000...

Waktu itu, aku kuliah semester 4. Sejak awal, aku sudah merasa nggak nyaman kuliah di Arsitektur. Aku merasa nggak bakat. Ditambah lagi, masalah keluarga. Juga masalah pertemanan. Tugas-tugas nggak pernah kuselese-in. Prestasi akademis nge-drop. Rasanya berat banget ngadepin semua itu.

Liburan semester, satu angkatan KKL ke Jakarta selama lima hari. Di sana kita ketemu langsung dengan bebrapa arsitek muda Indonesia. Yori Antar, Irianto PH, Andra Matin. Mereka cerita kalau mereka, berkelompok sekitar sepuluh orang, baru keliling Eropa, melihat karya para arsitek dunia, yang mereka sebut, "Ziarah Arsitektur".

Saat itu, aku begitu terpesona akan cerita itu. Apalagi perjalanan kita naik bis, banyak kesempatan untuk ngelamun. Aku mulai berkhayal, tentang ziarah arsitektur itu. keren banget. Jalan-jalan ke Eropa, tapi bukan sekedar turis biasa. mereka bawa misi arsitektur. tapi, nggak enak kalo rame-rame. gimana kalo duaan aja, "sepasang kekasih?". wah.... asyik tuh...

pulang dari KKL, khayalanku makin menjadi-jadi. kuliahku tambah males. aku mulai rajin ndekem di kamar, ngetik. nggak tau ngetik apa. awalnya, penggalan-penggalan dialog. terus... teruuus.... teruuus.... tahu-tahu, jadi 11 halaman. lalu... 40 halaman. lho, apa ini?

setelah itu, aku mulai sadar bahwa aku sedang menyusun sebuah novel. akhirnya, sepanjang tahun 2001, aku jarang sekali kuliah. saat itulah cikal-bakal novel Diorama sedang di susun.

(eh, saat nulis ini... aku lagi dinner di Foodfest,.... Ada Duta sama Adelia Lontoh di seberang meja. keduanya yang tampak mungil di TV, ternyata tinggi besar. tapi aku lebih tertarik lihat dua anaknya. putih-putih, kayak china. yang kecil, kayak Jhosua waktu kecil. hihihi.... lutunaa....)

Waktu itu, belum ada judulnya. ya iyalaahhh.... dalam cerita itu, aku memadukan antara islam, arstektur, dan kehidupan metro jakarta (dalam versiku). aku berpikir, kayaknya... cerita kayak gini belum ada di dunia pernovelan. keren juga kalo bisa diterbitkan, terus bukuku tersedia di toko-toko. khayalanku udah ke mana-mana.....

oktober 2001, adik kosku, mamanya Lala yang asli, Tante Dian, ngasih tahu kalo ada lomba menulis novel Mizan. akhirnya, aku makin seriusin tulisan itu.

03 July 2008

Tengkyuh... Friendster...!

Menurutku Friendster itu hebat banget!

aku nggak nyangka banget, bisa ketemu sama pembaca Diorama_Dilatasi. ngucapin makasih sama mereka. minta kritik. minta masukan. waah... pokokna seneng banget.

dulu, saat sedih, aku selalu merasa sendiri. sekarang, tinggal buka friendster, dan lihatlah... ada ribuan teman yang akan selalu berada di sampingku...

Terima kasih... friendster...!

Ibuku... motivasiku...

Memel, begitu aku panggil ibuku.

ikut-ikutan mbakku sih. dari kata yang diambil dari sebuah buku yang dibacanya, Mami Marbel.

mbakku emang lucu.

Aku senang dg panggilan itu karena ga ada duanya di dunia ini.

Memel itu pekerja keras. punya motivasi yang tak pernah padam sampai usianya yang 63 tahun sekarang.

hobi banget ikut seminar. ikut perkumpulan. Memel ikut perkumpulan manula di Rumah Sakit Sarjito di Yogya, padahal rumahnya Kebumen. seratus kilometer jaraknya. cuma untuk sebuah pertemuan dua jam, rela menempuh perjalanan tujuh jam pulang pergi.

Memel selalu bawa buku bacaan di tasnya. Terutama buku kesehatan. ih, gaya banget ya!

Dan... enggak pernah kebaca. karena ngantuk.

Memel pensiunan pegawai KB, Keluarga Berencana, tapi pingin cucu yang buanyak, hehehe...

Memel PNS sejati. pingin banget semua anaknya jadi PNS yang sukses! Tapi beliau sendiri pengen banget jadi pedagang. Selalu wawancara para pedagang yang ditemui di bis.

Memel waktu muda sangat perkasa. Beliau menempuh jarak puluhan kilometer tiap hari, naik motor, pagi, siang dan malam. Keluar masuk desa. Kampanye KB.

Sekarang, Memel udah tua. Sudah putih rambutnya.

Sudah sering sakit. Tubuhnya lemah.

Aku belum bisa membalas semua yang Memel lakukan untukku.

Aku jadi sedih....

Di mata Memel, aku belum menjadi seperti yang Memel harapkan.

Jadi tambah sedih.

Arsitek atau Penulis?

Kalo disuruh milih dua profesi itu, aku pilih penulis.

Aku emang kuliah di arsitektur, tapi babar blas gak bakat jadi arsitek. babar blas!

emang sih, kalo dibanding dg yang gak kuliah di arsitektur dan lebih nggak bakat dibanding aku, jelas, aku jadi terlihat "lebih". tapi kalo kumpul dengan sesama lulusan arsitektur, aku paling belakang. paling nggak bakat. paling nggak kepakai.

sempet juga bikin tiga disain rumah atas permintaan sebuah penerbit. jadi disain itu bukan untuk dibikin bangunan tapi untuk dibikin buku.

sempet juga punya klien satu biji. tapi sampai sekarang belum selesai juga.... hiks hiks.

maapkan daku, Pak Klien....

kalo suruh main-main pake Sketch Up, aku seneng. hobi ajah!

Emang sih, aku juga belum jadi penulis yang sebenar-benarnya. tapi profesi ini mending daripada gelar "ngarsitek-ku" yg sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan.

sebetulnya, ada satu cita-citaku yang sangat kuidam-idamkan, tapi belum tercapai. aku sedang berusaha menuju ke sana... yaitu jadi seorang....

entrepreneur...!

Serial Terbaru... judulnya...

Masih Rahasia, tentu aja.

Yang jelas, cerita ini awalnya dibuat bersamaan waktu aku nulis Diorama. Diorama itu romantis, jadi aku merasa kelucuanku tak terakomodasi. jadilah aku nulis cerpen yang judulnya "Taaruf". Iseng.

isi ceritanya cuma iseng. gak lucu, tapi jayus dan garing. pernah kukirim ke seorang editor. beliau bilang, nggak lucu tapi garing. lelucon model ginian udah ketinggalan zaman. tapi tetep bisa bikin dia ketawa.

aku juga kasih cerpen ini ke temen-temen kos. mereka pada ketawa-tawa. bahkan ada yang sampai keluar air mata. yah... minimal senyum. mereka sih , nggak menilai cerita ini gimana dan gimana. mereka adalah pembaca murni, bukan kritikus seperti editor.

dari satu cerita... berkembang jadi dua.... jadi tiga... terus.... sampai 2008 ini. tujuh tahun, bo! bayang pun! lama kali ....

aku yakin, kumpulan cerpen nggak jelas ini nggak bakalan ada penerbit yang mau terima. tapi, apa salahnya kalau aku bagi juga ke orang lain. caranya adalah.... terbitin aja sendiri. bikin cover sendiri. cetak sendiri, jual sendiri. lucu kali yah...

kalo nggak laku, tanggung sendiri! hehehe...

Tapi jangan sampai nggak laku. InsyaAllah laku. Kalau nggak laku, profesiku sebagai penulis, bisa tamat!

01 July 2008

Serial Terbaru

Serial ini sebenernya udah akyu tulis sejak 2001. bareng sama Diorama. Tapi waktu itu aku cuma iseng. awalnya cuma satu cerita, lalu nambah dan nambah lagi. akhirnya jadi tigabelas cerita.

Kenapa kisah ini nggak keluar-keluar, karena aku banyak menemui kendala. Yang paling besar adalah kendala modal. Untuk biaya cetak sangat mahal. semahal apa? sekitar... tiga kali lipat harga laptop. Itu minimal. maksimalnya... tak terbatas. Aku lagi coba cari investor. Sebetulnya udah ada calon investor.

Masalahnya, apakah investor mau menanggung risiko kerugian? kalau tidak, berarti semua risiko aku yang nanggung.  risiko paling berat adalah, kalau nanti buku ini, SERIAL TERBARU ini, tidak laku, sementara aku sudah keluarin banyak biaya.

Aku masih ragu, apakah aku udah siap ngadepin semua risiko ini?