Frustasi

Sebetulnya aku sudah dalam tahap frustasi untuk menyiapkan serial ini. dari 13 cerita, yang diedit sudah 12 cerita. tinggal satu cerita, tapi nggak selesai-selesai. bukan hanya selesai. tapi memang sebuah cerita yang layak. untuk keluar kelucuanku susah banget. bahkan yang garink sekalipun.

mungkin persoalan frustasi bukan hanya karena serial ini. banyak hal lain yang sedang aku pikirkan.

cuma frustasi, belum saampai putus asah…

Posted under Lembar by Ari Nur on Tuesday 8 July 2008 at 08:12

Tengkyuh… Friendster…!

Menurutku Friendster itu hebat banget!

aku nggak nyangka banget, bisa ketemu sama pembaca Diorama_Dilatasi. ngucapin makasih sama mereka. minta kritik. minta masukan. waah… pokokna seneng banget.

dulu, saat sedih, aku selalu merasa sendiri. sekarang, tinggal buka friendster, dan lihatlah… ada ribuan teman yang akan selalu berada di sampingku…

Terima kasih… friendster…!

Posted under Lembar by Ari Nur on Thursday 3 July 2008 at 09:01

Ibuku… motivasiku…

Memel, begitu aku panggil ibuku.

ikut-ikutan mbakku sih. dari kata yang diambil dari sebuah buku yang dibacanya, Mami Marbel.

mbakku emang lucu.

Aku senang dg panggilan itu karena ga ada duanya di dunia ini.

Memel itu pekerja keras. punya motivasi yang tak pernah padam sampai usianya yang 63 tahun sekarang.

hobi banget ikut seminar. ikut perkumpulan. Memel ikut perkumpulan manula di Rumah Sakit Sarjito di Yogya, padahal rumahnya Kebumen. seratus kilometer jaraknya. cuma untuk sebuah pertemuan dua jam, rela menempuh perjalanan tujuh jam pulang pergi.

Memel selalu bawa buku bacaan di tasnya. Terutama buku kesehatan. ih, gaya banget ya!

Dan… enggak pernah kebaca. karena ngantuk.

Memel pensiunan pegawai KB, Keluarga Berencana, tapi pingin cucu yang buanyak, hehehe…

Memel PNS sejati. pingin banget semua anaknya jadi PNS yang sukses! Tapi beliau sendiri pengen banget jadi pedagang. Selalu wawancara para pedagang yang ditemui di bis.

Memel waktu muda sangat perkasa. Beliau menempuh jarak puluhan kilometer tiap hari, naik motor, pagi, siang dan malam. Keluar masuk desa. Kampanye KB.

Sekarang, Memel udah tua. Sudah putih rambutnya.

Sudah sering sakit. Tubuhnya lemah.

Aku belum bisa membalas semua yang Memel lakukan untukku.

Aku jadi sedih….

Di mata Memel, aku belum menjadi seperti yang Memel harapkan.

Jadi tambah sedih.

Posted under Lembar by Ari Nur on Thursday 3 July 2008 at 08:49

Next Page »